4 Orangutan Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Iklan Semua Halaman

Header Menu

4 Orangutan Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Berita 24 Indonesia
Senin, 27 November 2017
4 Orangutan Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Pelepasliaran Orangutan

Pelepasliaran Orangutan (Foto: dok. KEHATI-TFCA Kalimantan)
Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan yang dikelola oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, melepasliarkan empat orangutan. Pelepasan berlangasung di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 21 November 2017 dan 22 November 2017. Empat orangutan yang dilepaskan merupakan hewan korban perburuan, perdagangan, dan pengrusakan hutan. Hewan-hewan diberi nama Mama Laila (betina, 14 tahun), Lili (anak Mama Laila, betina, 4 tahun), Lisa (betina, 5 tahun), dan Vijay (jantan, 5 tahun).Direktur Program YIARI Karmele L Sanchez, m engungkapkan, pelepasliaran empat orangutan ini merupakan penyelamatan dan konservasi satwa liar dilindungi, khususnya orangutan di Kalimantan, yang saat ini statusnya kritis.“Orangutan di Kalimantan kian terancam habitatnya. Banyak hutan yang dikonversi, dijadikan kebun. Tak sedikit pula orangutan yang diburu dan diperjualbelikan. Oleh karena itu, kami tergerak untuk melakukan penyelamatan. Empat orangutan ini sebelumnya kami rescue dan rawat di pusat rehabilitasi. Dan, saatnya kini kami kembalikan ke habitat liarnya,” ujar Karmele dalam rilis yang diterima kumparan (kumparan.com), Senin (27/11).

Baca Juga :

  • Ada Lara di Balik Atraksi Gajah Tunggangan
  • Ditemukan Tarantula Warna Biru Elektrik
  • Selebriti Ramai-ramai Serukan Setop Konsumsi Daging Anjing

Orang   utan

Orangutan (Foto: Reuters)
Meski orangutan tersebut berasal dari Ketapang, lepas liar tetap berlangsung di TNBBR yang jaraknya terpisah 450 kilometer. TNBBR dipilih karena masih cocok untuk habibat baru orangutan, terutama untuk aspek ketersediaan pakan di alam liar, tegakannya, dan tingkat kepadatan populasi orangutanya.“Sementara, hutan-hutan di Ketapang umumnya sudah rusak. Tak ada hutan yang layak untuk melepasliarkan orangutan,” lanjut Karmele.Pelepasliaran dilaksanakan dalam dua kesempatan berbeda. Pada hari pertama, 21 November 2017, tim melepasliarkan Mama Laila dan Lili di titik sekitar 4 kilometer dari batas TNBBBR dengan Dusun Mengkilau, Desa Nusa Poring, Kecamatan Manukung. Pelepasliaran kedua dilaksanakan keesokanharinya terhadap Vijay dan Lisa pada titik sekitar 12 kilometer dari batas TNBBBR dengan dusun yang sama.Mama Laila dan Lili merupakan dua orangutan liar yang berasal dari wilayah Kecamatan Sei Awan. Induk dan anak itu ditemukan di perkebu nan karet milik warga. Saat ditemukan, kondisi kedua orangutan tersebut dalam keadaan stres berat dan kelaparan. Diduga, mereka memasuki areal perkebunan karena kesulitan mendapatkan makanan di habitanya akibat rusaknya hutan tempat mereka bernaung.Manajer Operasional YIARI, drh Adi Irawan, mengatakan, saat ditemukan, Laila tampak sangat ketakutan. Dia tidak berhenti memeluk erat anaknya, Lili. Dia sering berteriak karena merasa terancam. Area gluteal dari Laila tampak mengalami kebotakan (alopecia) dan sangat kotor. Hal ini mengindikasikan, Laila banyak menghabiskan waktunya duduk dan berada di tanahâ€"suatu kecenderungan yang menandakan lemahnya keadaan fisik dan minimnya ketersediaan pakan di perpohonan.“Pada tanggal 16 September 2017, tim rescue YIARI segera datang ke lokasi dan mengamankan kedua orangutan liar ini melalui pembiusan dan segera membawa keduanya ke pusat rehabilitasi orangutan YIARI,” ungkap Adi.

Pelepasliaran Orangutan

Pelepasliaran Orangutan (Foto: dok. KEHATI-TFCA Kalimantan)
Vijay dibawa ke YIARI Ketapang pada tanggal 20 November 2017 oleh pemiliknya. Sebelumnya, orangutan jantan ini ditemukan pemiliknya di kebun.Karena merasa kasihan, orang tersebut mengambil dan memelihara Vijay dalam kandang berukuran 3x1 meter. Sementara, Lisa ditemukan warga di Desa Sungai Bulu, Manis Mata, di areal ladang pertanian pada 18 Januari 2015. Dia kemudian dipelihara oleh warga dengan cara sangat menyedihkan: lehernya terus menerus diikat tali, hanya diberi makanan berupa cempedak, dan diminumi air putih. Lisa lalu dibawa oleh enam petugas Kepolisian Sektor Manis Mata, Ketapang, dengan ditaruh di dalam tong tempat sampah yang dilobangi bagian atasnya sebagai ventilasi udara. Aparat kemudian menyerahkan Lisa ke YIARI. Saat ini, masih terdapat 109 individu orangutan yang dirawat di pusat penyelamatan dan rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang. Selama tahun 2017, sebanyak 12 individu orangutan yang telah dilepasliarkan oleh YIARI di TNBBR.Pada tahun yang sama, jumlah orangutan yang masuk ke pusat penyelamatan lebih dari 20 individu. Hal ini mengindikasikan, kerusakan hutan sebagai habitat orangutan semakin tinggi.“Orangutan yang direhab tak serta merta bisa langsung dilepasliarkan. Harus dirawat, diobati, dan dikembalikan kemampuan dan instingnya untuk hidup di alam liar. Butuh waktu yang lama dan biaya sangat besar,” papar Karmele.Sumber: Google News | Berita 24 Kalbar